Header Ads

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Dari Tukang Angkut Sampah Jadi Presdir Microsoft

Andreas Diantoro

Wartawan KompasTekno, Oik Yusuf, sempat berbincang dengan Andreas Diantoro, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, di kantornya yang berlokasi di Gedung Bursa Efek Jakarta pada akhir Desember 2014.
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari seri tulisan hasil wawancara tersebut: 

Februari 2012, Andreas Diantoro bergabung dengan Microsoft Indonesia. Pucuk pimpinan sebagai presiden direktur dipegangnya setelah malang melintang selama belasan tahun di dunia teknologi informasi.

Siapa sangka jika pada masa kecilnya dulu Andreas pernah bekerja sebagai tukang angkut sampah?

Kesuksesan tak datang begitu saja. Andreas mengawali karier dari bawah, meniti jalan hidup yang mengantarkannya dari gang-gang kawasan Malioboro hingga melanglang buana ke banyak negara di seluruh dunia.

"Waktu kecil saya sering diajak kulakan ke Jakarta, cari barang naik kereta ke pasar pagi. Di sinilah visi bisnis saya terbentuk," kata Andreas.

Ia berkisah, dirinya pernah melakukan berbagai pekerjaan, mulai dari bekerja sebagai pengangkut sampah hingga jadi pelipat seprai di rumah sakit. 

Namun, untuk mengetahui kisah Andreas, mari kita kembali ke asal-usulnya. Dari mana orang nomor satu Microsoft Indonesia ini berasal?

Cinta lokasi di lapangan basket

Andreas lahir pada 12 September 1968, dari pasangan orangtua yang sama-sama atlet basket. Dalam sebuah Pekan Olahraga Nasional, sejoli Diantoro (ayah Andreas) dan Juliana (ibu Andreas) pertama kali berjumpa. 

Ketika itu, Diantoro merupakan atlet yang mewakili provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sementara Juliana membawa nama Jawa Tengah.

Pertemuan keduanya kemudian membuahkan rasa cinta yang berujung pada buah hati mereka: Andreas Diantoro. Melihat latar kedua orangtuanya, wajar bilamana kemudian tumbuh rasa suka yang mendalam terhadap basket di dalam diri Andreas.

Saking cintanya, Andreas kecil bercita-cita menjadi atlet basket profesional. Pada masa-masa awal sekolah, dia rutin bermain basket, tujuh hari dalam seminggu. 

"Prioritas saya dulu yang  pertama basket, kedua basket, lalu ketiga juga basket. Belajar itu nomor sekian," kata Andreas menerangkan kesukaannya.

Ditentang Orangtua

Namun, hobi yang menjadi obsesi ini mendapat pertentangan. Datangnya tak lain dari ayah yang khawatir anaknya tak bisa memperoleh penghidupan dengan cara demikian. 

Menurut Andreas,  pada masa itu, hidup sebagai olahragawan memang sulit. Orangtuanya pun menggantungkan nasib pada usaha toko alat-alat kantor.

Maka dari itu, begitu mulai bersekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta, Andreas dengan berat hati mengikuti anjuran sang ayah. Dia membatasi kegiatan basket dan menghabiskan lebih banyak waktu menyimak pelajaran. 

Harapannya, dia bisa lulus ujian akhir Ebtanas dan mengikuti Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Kendati terpaksa mengorbankan basket, Andreas sempat memetik sejumlah pelajaran hidup dari olahraga kesukaannya itu. 

"Olahraga  penting untuk membangun karakter. Di sana ada teamwork, kita belajar untuk bekerja sama dengan teman, mempelajari sikap, dan  membangun sportivitas. Semuanya hal-hal yang penting sekali untuk  kesuksesan," kata Andreas. Hingga kini, dia mengaku masih suka bermain basket pada waktu luang.

via kompas.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.