Header Ads

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Mengapa Kecelakaan Pesawat Sering Terjadi di Asia Tenggara?

Ilustrasi Pesawat

Meski kemungkinan setiap orang yang naik pesawat meninggal dalam kecelakaan sekitar 1 dibanding 11 juta, tapi tiga pesawat asal Malaysia sudah berguguran, tanpa ada yang selamat.
Beberapa tahun terakhir, industri penerbangan Malaysia telah menderita sejumlah tragedi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Meskipun kemungkinan setiap orang yang naik pesawat meninggal dalam kecelakaan sekitar 1 dibanding 11 juta, tapi tiga pesawat asal Malaysia sudah berguguran, tanpa ada yang selamat.

Yang terbaru, AirAsia QZ8501, yang melakukan perjalanan dari Surabaya, Indonesia menuju Singapura menghilang di atas Laut Jawa.

Tentu saja, tiga bencana udara yang dialami Malaysia merupakan nasib buruk yang brutal. Namun, ada beberapa kecenderungan yang menimbulkan pertanyaan apakah terbang di Semenanjung Asia Tenggara benar-benar aman?
Menurut laporan Businessweek, Selasa 30 Desember 2014, pasar penerbangan di wilayah itu terkenal dengan operator murah, sehingga menyebabkan suburnya maskapai di wilayah Asia Tenggara, jangkauan pengendali lalu lintas udara yang semakin luas dan maskapai tumbuh terlalu cepat.

AirAsia adalah maskapai penerbangan murah pertama di Asia Tenggara, yang sebelumnya didominasi oleh operator negara. Melalui perjanjian langit di dekade terakhir, pasar penerbangan Asia Tenggara akhirnya terbuka.

Maskapai penerbangan murah memungkinkan warga kelas menengah di kawasan Asia melakukan perjalanan udara untuk pertama kalinya. Meskipun termasuk dalam kelas penerbangan murah, AirAsia memiliki reputasi sebagai maskapai dengan layanan konsumen yang bagus.

Saat QZ8501 dinyatakan hilang kontak, AirAsia langsung menunjukkan responnya. Melalui situs dan panggilan darurat pusat mereka, maskapai ini selalu memberikan informasi terakhir, yang tampaknya akurat, tentang pesawat dan upaya pencariannya.

Sangat kontras dengan kasus hilangnya Malaysia Airlines MH370 yang kurang tanggap dan cekatan dalam memberikan informasi terkini kepada keluarga korban.

AirAsia telah berkembang pesat di Indonesia, negara kepulauan dengan populasi terbesar di Asia Tenggara di mana perjalanan udara murah sangat menarik bagi kelas menengah. Maskapai Indonesia bertarif murah seperti Lion Air, Citilink, Tigerair dan lainnya juga tak ketinggalan meramaikan udara Indonesia.

Namun ramainya udara Indonesia tidak diimbangi oleh sumber daya manusia berpengalaman yang cukup untuk menerbangkan pesawat komersial seperti sebelumnya. Wilayah udara di Asia Tenggara masih memiliki banyak pegunungan, cuaca buruk dan jalur udara yang saling berdekatan.

Pilot AirAsia QZ8501 dilaporkan memiliki pengalaman mengemudikan Airbus sebanyak 6000 jam. Namun tidak disebutkan dengan jelas apakah ia memiliki pengalaman terbang pada 34.000 kaki atau lebih tinggi, di mana ia mencoba untuk menaikkan pesawat untuk menghindari cuaca buruk.

Semakin tinggi pesawat naik, semakin sulit bagi pilot untuk menghindari kondisi rumit seperti udara yang menipis dan kristal es.

Untuk itu, beberapa maskapai penerbangan khususnya yang bermodal cekak mencari jalan pintas. Perusahaan semacam ini akan merekrut pilot dan kru yang berkualitas dan diduga, memaksa mereka untuk bekerja di luar kemampuan jam terbang untuk menjalankan begitu banyak penerbangan.

Setidaknya tiga pilot maskapai Indonesia, Lion Air, telah ditangkap karena penggunaan kristal metamfetamin atau shabu sejak 2011. Shabu adalah stimulan yang membuat pemakaiannya tetap terjaga dan waspada.

Masih menurut Businessweek, Indonesia juga terkenal karena manajemen yang buruk atas penanganan pesawat di udara maupun yang akan mendarat.
"Indonesia juga terlalu longgar dalam menetapkan aturan untuk pemeliharaan pesawat. Gaji untuk petugas pengendali lalu lintas udara, mekanik, dan alat pengatur industri penerbangan masih rendah menurut standar regional."

Selain itu, korupsi sudah menjadi endemik di semua tingkat badan hukum di Indonesia. Padahal, peningkatan penerbangan ke dan melalui Indonesia membutuhkan lebih banyak petugas pengendali lalu lintas udara, mekanik, dan pilot.

Sudah menjadi rahasia umum, pihak berwenang di Indonesia kurang memperhatikan keselamatan penerbangan ke dan sekitar kepulauan negara ini. Lion Air saja mengalami 7 kecelakaan pesawat dalam dekade terakhir.

Sebaliknya, semua maskapai besar AS jika digabung, yang melakukan penerbangan secara besar-besaran setiap hari dari Lion Air, hanya mengalami total tiga kecelakaan serius dalam dekade terakhir.

Secara keseluruhan, penerbangan Indonesia ini telah mengalami banyak kecelakaan mematikan lainnya dalam 10 tahun terakhir.

Uni Eropa telah melarang hampir semua maskapai penerbangan Indonesia untuk terbang di atas udara Eropa karena masalah keamanan. Bahkan maskapai plat merah Garuda Indonesia, di tahun 2000-an, dilarang terbang di Eropa karena catatan keamanannya.

The International Air Transport Association tidak mengizinkan Lion Air untuk menjadi anggota karena kekhawatiran tentang keamanan maskapai tersebut.

sumber : www.dream.co.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.